Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba. Belum terwujud dan tidak memiliki rasa dan warna.
Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan segala kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya?
Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?
-La Tahzan, ‘Aidh Al-Qarni-

